Peluang atau Euforia?
Thursday, 30-Apr-15 09:52:42 WIB

Euforia bisnis food truck seperti virus yang telah menyebar ke mana-mana. Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota besar lainnya sebetulnya hanya melanjutkan demam yang sama di Amerika Serikat, Mexico, Australia, atau Inggris.

Food truck memang memberikan kesempatan yang terbuka buat siapa saja untuk mengadu nasib di dunia kuliner. Karena hambatan untuk masuk ke bisnis ini tidak ada, dan modal awal untuk membangun food truck yang hanya seperempat bahkan bisa lebih kecil ketimbang membuka restoran permanen.

Banyak orang yang antusias tetapi tidak sedikit juga yang pesimis. Apakah bisnis ini bisa berjalan seperti cerita sukses film Holywood? Apakah orang-orang akan mengantri berjejer-jejer di teriknya panas untuk mencicipi sepotong burger atau semangkuk mi? Pertanyaan ini terus mengiang di kepala, dan sebagian orang sepertinya menunggu dan menanti adanya bukti yang konkret dan mungkin baru akan memutuskan setelah itu.

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan hanya ada di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lainnya. Apakah bisnis food truck bisa berlanjut (sustainable) atau tidak? Pemberitaan televisi dan media sosial tentang industri restoran membawa orang kepada angan-angan atau ilusi tentang nikmatnya kesuksesan di bisnis ini. Dengan food truck orang merasa impiannya bisa lebih cepat terwujud.

Sekarang, baiknya kita kembali saja ke dunia nyata. Bisnis restoran tentu saja sangat menjanjikan, karena selama orang masih butuh makan maka masih akan ada orang yang membeli makanan. Dan apa yang membuat orang memilih satu tempat restoran tetapi menolak mampir di tempat yang lain harus secara cermat diamati. Penampilan, pelayanan dan rasa menjadi penting. Karena itu, Anda harus memulai dengan resep makanan yang enak, garnish yang memikat mata dan selera, ide-ide pemasaran di media sosial yang brilian, dan tentu saja truk makanan yang wow!

Membangun food truck bisa dari kendaraan yang sudah ada sehingga biaya bisa lebih murah, bisa juga merancang dari nol. Kendaraan yang wow! bukan berarti harus mewah. Tetapi yang lebih utama adalah fungsinya. Sebagai kendaraan berjalan ia efektif menjadi iklan berjalan. Di bagian dalamnya harus berisi perangkat yang efisien karena sumber daya listrik atau gas yang terbatas, juga harus efektif dengan berbagai kompartemen di dalamnya yang fungsional, tetapi ringkas dan kompak. Sehingga, semua kebutuhan memasak terintegrasi di dalam truk dan tak perlu repot kalau harus segera berpindah tempat.

Bagaimana dengan keuntungan? Soal ini selalu menjadi pertanyaan besar setiap orang. Sejauh ini, kebanyakan food truck di Indonesia masih mengandalkan aktivitas dari satu festival ke festival lain. Beberapa food truck sudah punya tempat mangkal sendiri yang favorit. Seperti Fat Belly di Taman Sari, Tangerang. Dalam sebuah festival, truk yang menjual Fatty Burger ini bisa menghabiskan 500 porsi per hari. Rata-rata keuntungannya sekitar Rp 10 juta setiap acara.

Truk yang lain mengaku omzet dari setiap event setidaknya bisa menutupi gaji bulanan para pegawainya. Menurut perhitungannya modal awal sekitar 400-500 juta rupiah bisa mereka kembalikan dalam waktu enam bulan hingga setahun. Lebih dari itu, Anda harus mulai mengevaluasi kelayakan food truck Anda.

Apakah menu Anda memang enak? Apakah pendapatan Anda bisa menutupi biaya sehari-hari, untuk belanja bahan baku dan gaji para awak? Dan apakah perlu mengeksplorasi truk makanan Anda untuk meluncur ke tempat-tempat baru yang potensial? Jangan remehkan pula kemungkinan untuk memperluas pasar food truck Anda, misalnya menjadi partner katering di acara-acara perkawinan atau aktivitas kantor. Peluang-peluang seperti ini tentu saja masih terbuka lebar.