Mendorong Peran Perbankan
Tuesday, 31-Mar-15 08:55:54 WIB

Niat Anda untuk membuka restoran bisa jadi terhenti ketika sampai pada masalah modal. Setelah Anda selesai memutuskan apa konsep restoran yang ingin dibangun, mendapatkan lokasi yang strategis, memilih nama atau menyusun rencana bisnis, masalah finansial tetap harus dipecahkan terlebih dahulu.

Memang betul sumber pembiayaan yang berasal dari perbankan semakin sulit didapat. Banyak usaha restoran yang jatuh bangun, sehingga risikonya cukup tinggi buat perbankan. Tetapi bukan berarti sumber-sumber finansial itu tidak ada. Bahkan selain perbankan, ada pula sumber pembiayaan lain dari kredit multiguna yang bahkan lebih rendah bunganya, proses yang lebih mudah, dan tidak selalu perlu jaminan aset untuk memperoleh kreditnya.

Ini kebalikan dari perbankan, yang menurut survei dari Bank Indonesia 2007, masalah bunga yang terlalu tinggi, prosedur yang cukup rumit dan perlunya kolateral menjadi faktor utama yang menahan orang berpaling ke bank. Tak heran kalau rata-rata 91% modal orang membangun restoran berasal dari dana internal, dan hanya 8% yang meminjam ke perbankan.

Sesungguhnya, kalangan perbankan paham bahwa potensi penyaluran kredit ke bisnis restoran cukup besar, mengingat rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto subsektor restoran baru mencapai 4,9%. Idealnya rasio kredit perbankan terhadap PDB bisa mencapai 60-70%.

Padahal menurut Bank Indonesia dalam laporan asesmen subsektor restoran (Oktober 2014), tren pertumbuhan bisnis restoran cenderung meningkat, dengan rata-rata pertumbuhan dari 2010-2014 kurang lebih 4,4%. Tetapi memang skalanya masih didominasi oleh usaha UMKM.

Secara umum, BI melihat bahwa pengeluaran terbesar bisnis restoran ada pada biaya operasional terutama pembelian bahan baku yang mencapai 69%, baru kemudian biaya tetap 28%, dan biaya promosi 3%. Yang tidak dilihat oleh perbankan adalah biaya investasi awal membangun restoran yang sangat tinggi, terutama untuk restoran sekelas di mal-mal. Untuk menyediakan perangkat dapur dan interior saja bisa menghabiskan hampir 2 miliar rupiah.

Sementara, kredit yang disalurkan perbankan ke bisnis restoran baru mencapai 0,3% dari total kredit perbankan atau empat kali lebih kecil dari kredit yang disalurkan ke hotel. Kredit yang telah disalurkan kebanyakan juga masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, dengan porsi terbesar 35,9% di DKI Jakarta. Padahal potensi besar kuliner juga tumbuh di Sumatera, Sulawesi, apalagi Bali.

Tak heran kalau tren pertumbuhan penyaluran kredit ke bisnis restoran melambat, kalau September 2014 tumbuh hanya sebesar 19,1% sedangkan tahun sebelumnya 34,1%. Meski begitu, dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan kredit di subsektor ini tumbuh paling tinggi ketimbang pertumbuhan kredit secara total. Sebaliknya, risiko penyaluran kredit di subsektor ini juga masih relatif rendah. Dan, kebanyakan kredit macet ada pada usaha UMKM sebesar 3,8%, sedangkan non-UMKM hanya 1,5%.

Potensi penyaluran kredit yang masih besar di bisnis restoran semestinya menjadi peluang buat perbankan yang memang dituntut untuk semakin produktif. Sudah seharusnya perbankan mengambil peran lebih untuk membiayai usaha yang terus tumbuh tiap tahunnya ini.

Perbankan perlu membuka diri dan melebarkan kerja samanya dengan para pelaku bisnis restoran termasuk dengan para pemasok atau penyuplai kebutuhan usaha restoran, seperti yang sedang dijajaki oleh Spektra, sebuah lembaga pembiayaan multiguna untuk alat kerja.