F&B atau Kamar Hotel?
Monday, 30-Mar-15 14:31:41 WIB

Kita bisa jumpai hotel bujet atau hotel ekonomis di setiap sudut jalan yang lokasinya strategis di kota-kota besar dan menengah. Hotel-hotel ini tumbuh bak jamur di musim hujan. Seperti jamur, ia tumbuh di mana saja di tempat yang basah tanpa peduli ada jamur yang lebih besar di sebelahnya.

Hasil studi Horwath HTL tentang sentimen pasar hotel di Indonesia Maret 2014, menguatkan kenyataan maraknya pembangunan hotel sekarang ini. Horwath menyimpulkan kalau sentimen responden dari Indonesia adalah yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam melihat prospek bisnis hotel ke depan. Ketika disigi per kota, pemilik atau pengelola hotel (hoteliers) di kota Jakarta dan daerah-daerah bahkan lebih optimistis ketimbang Bali dalam melihat prospek bisnis hotel di Indonesia. Padahal Bali adalah barometer pariwisata di Indonesia.

Pada akhir 2014 lalu, terdapat sekitar 1.700 hotel berbintang, butik dan penginapan wisata dengan 171.000 kamar di Indonesia. Hotel-hotel ini sebagian besar tersebar di Bali (227 hotel), Jawa Barat (229 hotel), Jakarta (185 hotel), Jawa Tengah (166 hotel), Jawa Timur (113 hotel), Sumatera Utara (96 hotel), Kepulauan Riau (76 hotel), Yogyakarta (61 hotel), dan Sulawesi Selatan (57 hotel).

Pertumbuhan industri hotel dan restoran mencapai 8,7% dan 5,2% pada 2013. Dari sekian banyak kelas atau kategori hotel, bukan kebetulan kalau hotel bintang 3 termasuk yang pesat pertumbuhannya. Ini sejalan dengan lahirnya kelas menengah baru dan meningkatnya daya beli masyarakat di kota-kota menengah, serta tumbuhnya industri pariwisata dengan meningkatnya pelancong domestik dan dari mancanegara. Sehingga permintaan kamar hotel di kelas ini pun meningkat.

Hotel ekonomis memang belum tentu berbintang tiga, sebaliknya hotel bintang tiga juga belum tentu ekonomis. Pengkategorian ini saja sudah membuat kita bingung. Sama bingungnya dengan betapa gencarnya investasi di bisnis perhotelan ekonomis ini, sehingga bahkan beberapa pihak berharap pemerintah melakukan moratorium pembangunan hotel baru.

Secara tradisional, pendapatan hotel berasal dari dua elemen: tingkat hunian kamar dan pelayanan/penjualan makanan dan minuman. Perlu dicatat di sini kalau semakin tinggi bintang hotel maka semakin tinggi kontribusi dari departemen  food & beverage (F&B), yakni sekitar 70-80% pendapatan. Sedangkan pada hotel menengah, departemen f&b bisa memberikan kontribusi antara 40-50%.

Mengacu pada konsep awal dari hotel bujet yang berprinsip menggunakan tenaga kerja sesedikit mungkin, sehingga kontak antara pelayan hotel dengan tamu minimum. Hotel ini berarti tidak secara penuh menyediakan makanan dan minuman.

Tetapi, dengan tumbuhnya perekonomian dan semakin banyaknya perjalanan dan pertemuan bisnis telah meningkatkan hunian hotel. Sayangnya, pemerintah yang baru kini melarang pegawainya rapat di hotel dan mengurangi perjalanan dinas. 

Agar tetap bisa bertahan, ada baiknya para hotelier memaksimalkan pendapatan dari F&B. Bagaimanapun, permintaan dari pihak swasta masih besar. Mereka yang bepergian tentu saja memerlukan makan dan minum juga. Ditambah lagi kebiasaan orang Indonesia ketika bepergian, meski untuk bisnis, acapkali membawa serta anggota keluarga. Daripada mereka “berkeliaran” mencari tempat makan, mengapa hotel tidak menyediakan saja?

Apa yang dilakukan oleh Favehotel patut menjadi contoh inspirasi. Dengan target pasar yang jelas dan konsep restoran yang ekonomis tapi kualitasnya sekelas hotel berbintang, F&B di hotel bujet tetap mampu memberi kontribusi pendapatan yang signifikan.