World Barista Championship 2014, Rimini - Italia
Thursday, 02-Apr-15 02:22:47 WIB

Setelah sebelumnya tidak sempat berpartisipasi menjadi juri pada World Barista Championship 2013 yang tahun lalu diadakan di Melbourne, Australia. Padahal sertifikasi WBC Judge saat itu sudah ditangan. Syukurnya WBC 2014 kali ini saya bisa hadir dan berpartisipasi sebagai juri.

Layaknya memilih tuan rumah Piala Dunia, pemilihan Negara dilakukan melalui sistem lelang oleh World Coffee Efent (WCE) yang diadakan setahun 2 kali. Rimini, Italia kali ini terpilih sebagai tuan rumah WBC 2014, dan Seattle, Amerika sebagai tuan rumah di tahun 2015. Indonesia pun sebenarnya bisa mengajukan diri sebagai penyelenggara, tentunya harus daftar terlebih dulu. Toh Indonesia sudah 3 kali ikut mengirimkan wakilnya, dan sudah diakui dunia memiliki kompetensi sebagai penyelenggara.

Walaupun tempatnya cukup jauh di Rimini, Italia, sebagai WBC Judge dan orang yang memiliki passionate di bidang kopi, kami memang harus aktif sebagai volunteer dan membiayai perjalanan dengan merogoh kocek sendiri. Para juri tersebut berasal dari berbagai penjuru dunia yang memiliki sertifikat WBC Judge, bertugas mengevaluasi setiap kinerja barista mulai dari rasa minuman yang disajikan, kebersihan, kreativitas, keterampilan teknis, dan presentasi barista secara keseluruhan.

Dari segi peserta, kompetisi ini pun setiap tahunnya tidak pernah kehilangan peminat. WBC kali ini diwakili oleh 54 peserta dari tiap-tiap negara di dunia, yang merupakan para barista nomor satu di negaranya. Walaupun ada 1 orang yang didiskualifikasi karena overtime.

Sistem Pertandingan

Kompetisi WBC mempersilahkan setiap barista untuk menyiapkan 4 espresso, 4 cappuccino, dan 4 signature drink yang sesuai dengan standar pertandingan, dan dikerjakan dalam waktu 15 menit. Lomba terdiri dari 3 stage, sehingga terdapat 3 set juri pula. Hal ini dikarenakan jumlah peserta yang sangat banyak dan jumlah sponsor pun banyak. Berbeda dengan Indonesia Barista Competition (IBC) yang hanya 2 stage.

Satu set juri terdiri dari 4 sensory judge dan 2 technical judge. Saya sendiri mendapat jatah dua hari, yaitu di hari pertama (4 peserta) dan hari kedua (5 peserta). Karena masih baru sebagai juri di WBC, saya mendapat kesempatan menjadi juri pada saat penyisihan, sedangkan juri senior (berpengalaman) bertugas saat semifinal dan final.

Walaupun agak sedikit gugup, dikarenakan baru pertama kali. Sistem kompetisi WBC ini sangat terorganisir dan begitu membantu para juri. Sama halnya dengan kompetisi barista di Indonesia, karena kita sudah mengadopsi regulasi WBC. Satu hari sebelum pertandingan, para juri dikalibrasi oleh Head Judge terlebih duhulu agar memiliki persepsi sama. Sehingga saat penilaian tidak memberikan angka yang jauh berbeda dengan juri lain, minimal perbedaan satu atau setengah poin. Jika lebih dari itu, maka juri tersebut tidak bisa dipakai dalam lomba. Form penilaian juri dirancang benar-benar khusus dan spesifik, sehingga kami tinggal mengisi angka-angkanya saja berdasarkan kolom penilaian. Setiap satu pertandingan, para juri langsung ke meeting room untuk mendiskusikan langsung semuanya. Benar-benar membutuhkan pengalaman yang besar.

Kesempatan Indonesia

Setiap tahunnya WBC menjadi ajang persaingan para barista level top dunia. Untuk mencapai posisi teratas, tentunya dibutuhkan persiapan yang sangat matang. Bagi saya perjuangan Yoshua Tanu (Commond Grounds Coffee Roastery) hingga sampai di posisi 31, patut diacungi jempol. Mengingat pengalaman kita yang baru dua kali mengirim peserta ke WBC sejak sanction, serta mengingat mepetnya waktu yang dimiliki Yoshua untuk mempersiapkan kompetisi ini. Hanya 2 minggu setelah kemenangannya di IBC 2014, kemudian langsung berangkat ke Rimini.

Kita butuh lebih banyak informasi tentang profesi barista ini dan kopinya. Kita perlu memahami lebih detail dan harus benar-benar menguasai, sehingga dibutuhkan jam kerja yang lebih tinggi. Orang-orang yang lolos ke semifinal, merupakan orang-orang yang memiliki kopi yang benar-benar dipilih, dan disiapkan jauh-jauh hari. Jadi memang harus mengerti sekali akan kopinya, dan harus baristanya yang mempersiapkannya sendiri. Walaupun ada pula yang menggunakan kopi lain, tapi setidaknya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Andai Yoshua memiliki waktu sebulan atau dua bulan untuk mempersiapkan segala sesuatunya, tentunya akan sempurna. karena dari segi teknis, Yoshi sudah sangat bagus dan mampu bersaing dengan para barista lainnya.