Vindex Tengker - Chef Indonesia Harus Terus Mengasah Kemampuan
Monday, 23-Mar-15 03:16:00 WIB

Kemajuan chef Indonesia cukup pesat dibandingkan beberapa tahun yang lalu, terutama untuk kompetisi. Hal ini dikarenakan perkembangan tren dari Asia terutama Singapura. Selain itu, banyak chef Indonesia yang melanglang buana dan kembali ke Indonesia untuk mengaplikasikan ilmunya.

Menyiapkan chef untuk kompetisi sendiri tidak mudah dan cepat. Peserta harus disiapkan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Ada pelatihan khusus, jadi tidak ada cerita chef langsung keluar secara instan lalu bersinar. Harus melalui proses yang panjang untuk menyiapkan seorang chef untuk kompetisi.

Proses inilah kami, ACP (Association of Culinary Professional) persiapkan. Contohnya, ACP mengadakan kompetisi Salon Culinaire di Jakarta tiap tahun ganjil dan di Bali pada tahun genap. Di ajang tersebut, kami melakukan local challenge yang merupakan sebuah proses seleksi untuk chef Indonesia. Kami melihat kemampuan chef-chef tersebut sebelum mempersiapkannya ke ajang yang lebih tinggi.

Prestasi Indonesia di ajang kompetisi terakhir, Food and Hotel Asia (FHA) Singapore 2014, sebenarnya cukup lumayan. Dari 10 orang yang berangkat, kita berhasil memboyong beberapa gelar juara. Cukup, tapi sebenarnya kita kurang prepare latihan. Maka kita akan menaikkan standar dan menggodok mereka di Salon Culinaire, Food and Hotel Indonesia yang akan datang tahun 2015 nanti.

Jika dibandingkan dengan negara lain, tingkat kompetisi Indonesia sebenarnya masih dalam tahap kontinental. Walaupun kemampuan chef Indonesia sudah lebih baik dibandingkan dahulu, namun level persaingan juga semakin tinggi. Contohnya adalah kemampuan chef Singapura di ajang FHA 2014 kemarin yang sudah level internasional. Kemampuannya sangat bagus walaupun kebanyakan dari mereka masih sangat muda. Mereka berlatih dengan senior-senior mereka yang terlebih dahulu terjun ke dunia kuliner. Mereka luar biasa detailnya, hasilnya sempurna, dan kerja kerasnya sangat terlihat di masakannya.

In some ways, menurut saya kita kurang konsisten dalam berlatih. Chef muda kita terlihat kurang gigih, namun ini ada sebabnya, yaitu keterbatasan waktu dan fasilitas. Chef muda kita berlatih di sela-sela waktu bekerja, jadi hasilnya kurang maksimal. Sementara itu, chef-chef dari negara lain yang ikut kompetisi di sana itu full berlatih tiap hari di sekolah-sekolah kuliner. Otomatis kemampuan mereka lebih baik karena mereka berlatih lebih banyak daripada chef Indonesia.

Selain itu, sekolah kuliner Indonesia sendiri juga masih kalah jika dibandingkan dengan sekolah kuliner di negara lain se- Asia seperti di Singapura, Taiwan, atau Korea. Dengan kata lain, sekolah kuliner kita masih belum memenuhi standar Asia. Untuk hal ini, kita butuh campur tangan dari seluruh pihak termasuk pemerintah. Kita sebagai pelaku kuliner juga harus memiliki andil dalam membantu memerbaiki dan mengupgrade sekolah-sekolah kuliner Indonesia.

Untuk SMK yang bisa dibilang sebagai langkah pertama seseorang dalam mempelajari dunia kuliner secara intensif, sebenarnya di Jakarta sudah ada beberapa yang lumayan bagus seperti SMK 27 dan SMK 57. Murid SMK lebih mudah terlihat bakatnya karena kurikulum mereka lebih terfokus dan spesifik. Mereka pun lebih cepat menangkap pelajaran. Tentunya akan bagus sekali jika kami dapat melatih sesorang dari usia yang sangat muda seperti murid-murid SMK ini.

Di masa saya memulai karier di dunia kuliner, tentunya kompetisi dalam bidang kuliner belum seketat sekarang. Malah bisa dibilang kompetisinya pun sangat sedikit karena jumlah chef juga masih terbatas. Jarang ada chef yang dapat pergi ke luar negeri untuk belajar atau bekerja. Namun, di zaman sekarang ini kesempatan jauh lebih terbuka. Masalah sekarang ini adalah bagaimana cara kita untuk mempersiapkan waktu dan kesempatan yang ada. Kita harus fokus untuk memperbaiki dan mengintensifkan diri dengan latihan. Ketika sudah berbicara mengenai kompetisi, it’s all about practice.

Untuk kompetisi, semua hal dinilai. Kita tidak bisa puas dengan satu hasil yang bagus. Mengapa? Karena tiap aspek mempengaruhi hasil dari penilaian. Misalnya, ada dua hidangan yang sama-sama bagus hampir dari semua aspek. Namun, jika satu hidangan memiliki teknik yang lebih tinggi, tentu hidangan itu yang akan menang bukan? Oleh karena itu kita harus banyak berlatih agar kemampuan kita semakin sempurna.

Untuk menjadi seorang chef yang baik, seseorang memang harus mempunyai bakat. Ibaratnya, semua orang bisa belajar memasak, namun bakat dapat menentukan hasil akhir. Mungkin kita sering melihat orang yang memasak secara bebas, dia memasuk-masukkan bahan mengikuti instingnya saja, tapi hasilnya tetap enak. Itu yang dinamakan bakat. Namun, bagaimana seseorang tahu dia punya bakat? Tentu saja dengan berlatih, dan latihan yang baik akan sangat mengasah bakatnya. Seseorang juga harus mempunyai passion yang tinggi untuk berada di dunia kuliner. Bakat dan latihan memang penting, namun passion akan membawa seseorang ke arah yang lebih tinggi.