Uji Laik Sehat atau Sertifikat Halal?
Wednesday, 06-Aug-14 02:17:51 WIB
Wacana tentang rumah makan atau restoran laik sehat tidak pernah terungkap ke permukaan seperti halnya sertifikat dan label halal. Padahal, sekalipun suatu makanan telah dinyatakan halal tetapi kalau diperlakukan secara tidak laik sehat akan menyebabkan bencana, seperti keracunan makanan, hingga kematian.
 
Perlu pula kita ingat bahwa makna, logika dan dasar fakta dibalik syariat agama yang menyatakan suatu makanan halal atau haram juga didasarkan pada faktor keamanan dan kesehatan pangan. Makanan yang mengandung babi yang diharamkan oleh penganut Islam atau Yahudi, misalnya didasarkan pada hasil riset bahwa daging babi menjadi tempat penampung penyakit. Jadi semata alasan sebenarnya dari mengharamkan suatu sumber makanan adalah masalah kesehatan.
 
Sebaliknya, seandainya seseorang makan makanan yang sudah dinyatakan dan disertifikasi halal tetapi ternyata proses pengolahan makanannya tidak higiene dan memenuhi standar sanitasi laik sehat, maka tragedi keracunan juga tinggal menunggu saja di depan mata.
 
Jadi yang lebih penting adalah bukan hanya persoalan halal atau tidak halal saja, tetapi lebih penting lagi adalah soal kebersihan dan keamanan dari pangan yang dikonsumsi. Karena itu mengabaikan sama sekali wacana laik sehat rumah makan dan restoran, yang menjadi tempat makan publik, adalah proses pembiaran yang menyesatkan kepentingan publik dan merugikan kita semua.
 
Data Badan Pengawasan Obat dan Makanan pada 2004 menemukan fakta bahwa 80 persen penyebab penyakit akibat makanan (food borne diseases) berasal dari buruknya higiene pada waktu pengolahan makanan. Menurut dr. Gagah Daru Setiawan, Kepala Seksi Pengendalian Masalah Kesehatan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, sejak 2000 dinasnya tidak pernah menerima lagi data masuk soal pengajuan laik sehat terbaru dari rumah makan atau restoran. Dengan kenyataan ini maka selama 9 tahun ini boleh jadi higiene sanitasi rumah makan dan restoran bertambah buruk, atau setidaknya tidak terkontrol, sehingga kita tidak pernah tahu kondisi sebenarnya.
 
Higiene dan sanitasi rumah makan dan restoran adalah upaya mengendalikan orang sebagai pihak yang mengelola dan mengolah masakan, tempat dan perlengkapan yang bisa menjadi tempat timbulnya penyakit dan gangguan kesehatan.
 
Berbagai perangkat hukum dan ukuran mengenai standar laik sehat sudah lebih dari cukup. Mulai dari Undang-Undang No. 18 tahun 2012 tentang pangan, Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan, Keputusan Menteri Kesehatan No. 1098 tahun 2003 tentang persyaratan higiene sanitasi rumah makan dan restoran, yang disertai dengan langkah teknis pengawasan dan pembinaan, serta Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 502 tahun 1996 tentang kewajiban memiliki sertifikat laik sehat dan izin penyehatan makanan.
 
Tapi sebetulnya, peluang untuk meminimalkan bahaya keracunan makanan cukup dengan cara sederhana tak perlu menunggu aturan hukum ditegakkan. Utomo Sukotjo, Koordinator Kesehatan Lingkungan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, membagi pengalamannya ketika berkunjung ke suatu tempat di negara tetangga. Di tempat makan pinggir jalan itu, pengusaha makanan memisahkan proses pengolahan makanan mentah dan makanan matang dengan jarak yang cukup jauh. Dengan cara ini lalat yang biasanya berkeliaran di sekitar makanan mentah tidak ikut-ikutan mampir di tempat pengolahan makanan matang. Sehingga makanan yang siap disajikan tetap dalam keadanan higiene.
 
Bukan berarti lalu masalah higiene dan sanitasi rumah makan dan restoran diserahkan sepenuhnya kepada pengelola dan pemilik usaha itu sendiri. Pemerintah tetap perlu menjadi wasit sekaligus pelindung dari kemungkinan tragedi kesehatan yang bakal menimpa warganya.
 
Lembar uji laik sehat serta buku pemeriksaan sanitasi sudah lama disiapkan dan dimiliki oleh para Suku Dinas Kesehatan di wilayahnya masing-masing. Uji laik sehat misalnya akan mengukur beberapa indikator mulai dari lokasi, fasilitas bangunan, pencahayaan, penghawaan, kondisi air bersih, saluran pembuangan air kotor, fasilitas cuci tangan, toilet dan pembuangan sampah. Diteliti juga bagaimana kondisi ruang pengolahan makanan, kondisin kesehatan dan penampilan/pakaian karyawan, keadaan makanan itu sendiri, proses perlindungan makanan dan kondisi peralatan makan dan masak. Bagi golongan rumah makan atau restoran mereka juga wajib memiliki atau menyediakan beberapa perangkat seperti freezer, ventilasi dan pembuangan asap, serta fasilitas lain dengan ketersedaiaan air bersih yang cukup. Semua indikator ini memiliki bobot yang akan menentukan skor akhir suatu tempat. Berdasarkan skor itu suatu rumah makan atau restoran memperoleh grade atau tingkat kelaikan sehat tempat usahanya.
 
Grade sebuah restoran atau rumah makan ini harus ditampilkan di tempat yang bisa terbaca oleh pengunjung. Dengan begitu, konsumen atau pelanggan mendapat perlindungan dari makanan yang dikonsumsinya, sedangkan rumah makan dan restoran memperoleh reputasi dari kebersihan dan keamanan makanannya.