Synesso Hydra untuk Kualitas Espresso yang Konsisten
Monday, 03-Nov-14 02:49:22 WIB

Jika ada yang bertanya, apa alasan orang dating ke coffee shop? Ingin menikmati espresso mungkin jawaban yang paling banyak dikemukakan. Proses pembuatan espresso yang membutuhkan mesin dan keahlian khusus menjadikannya identik dengan coffee shop. Untuk urusan mesin espresso ini, Noah’s Barn Coffeenery memercayakannya kepada Synesso Hydra.

Noah’s Barn menggunakan Synesso Hydra dua grup sejak pertama kali beroperasi pada medio 2012 silam, dan saat ini menjadi satu-satunya coffee shop di Bandung yang menggunakan mesin buatan Seattle, Amerika Serikat ini. Untuk memboyong mesin ini pun tidak mudah. Noah’s Barn harus memesannya terlebih dahulu, dan tiga bulan kemudian barulah mesin pesanan dikirimkan.

Perkenalan dengan Synesso Hydra dimulai sejak co-owner Noah’s Barn Guido Mariotti bekerja paruh waktu sebagai barista di Australia. Ketika tercetus gagasan untuk membuka coffee shop di Indonesia, Synesso-lah yang dipilih sebagai penyedia mesin espresso.

Kemudahan dalam penggunaan serta ketangguhan mesin karya Mark Barnett ini telah membuat pengelola Noah’s Barn jatuh hati kepadanya. “Saya hanya butuh empat hari untuk mempelajari dan menguasai semua fitur yang ada di Synesso Hydra,” ungkap Iqbal Fadilah, barista yang mengawali karirnya di Noah’s Barn.

Fitur andalan Synesso Hydra yang dirasa paling membantu barista dalam menyiapkan espresso yang berkualitas adalah control temperatur PID (proportionalintegral-derivative). “Dengan PID, memonitor suhu lebih mudah dilakukan. Hasilnya, rasa espresso yang dihasilkan lebih keluar dan konsisten. Biji kopi apa pun yang digunakan, rasa espressonya tetap sama,” Iqbal meyakinkan. Selain piawai dalam menjaga rasa espresso, Synesso Hydra juga dipersenjatai dengan steam yang unggul dalam memproduksi foamed milk dengan cepat dan halus.

 Dari kontrol temperatur PID, barista bisa mengatur suhu dan tekanan yang berbeda bagi masing-masing grup. Hal ini dimungkinkan karena Synesso Hydra memiliki pompa dan motor yang berbeda untuk setiap grup. Fitur ini klop dengan konsep laboratorium coffee shop yang diusung Noah’s Barn yang membebaskan para baristanya untuk bereksplorasi, bereksperimen, dan berkreasi.

Untuk menjaga keawetan mesin, Noah’s Barn menggunakan stabilizer. Dengan demikian, naik-turunnya voltase tidak akan langsung menyentuh sistem kelistrikan mesin espresso yang mengonsumsi total daya 4000 watt ini. Selain menjaga stabilitas tegangan listrik, perawatan penting lainnya adalah pencucian tanki air setiap kali mesin selesai dioperasikan.

Untungnya, Synesso Hydra sudah dilengkapi dengan proses pencucian tangki secara otomatis. “Berbeda dengan mesin espresso lain yang harus dimatikan dan uap harus dikeluarkan sebelum dibilas, di Synesso Hydra semuanya bisa dilakukan hanya dengan menekan satu tombol,” tutur Iqbal.

Kunci lainnya agar mesin tetap awet adalah menjaga suplai air agar tangki tidak kosong. “Patokan kami di sini jika air di tangki tinggal setengah, harus diisi lagi,” Iqbal menjelaskan. Ketelatenan para barista Noah’s Barn dalam merawat Synesso Hydra memang terbukti. Selama hampir dua tahun beroperasi, mesin espresso yang dinyalakan enam belas jam setiap hari ini belum pernah mengalami kerusakan.

“Seandainya terjadi kerusakan atau penggantian suku cadang, kita akan meminta bantuan teknisi dari distributor Synesso Hydra di Indonesia, Anomali Coffee, di Jakarta. Untungnya kita belum pernah melakukan perbaikan ataupun penggantian suku cadang selama hamper dua tahun memakai mesin ini,” Iqbal memuji ketangguhan Synesso Hydra.

Menurut Guido, Synesso Hydra ini memang dirancang untuk keperluan komersial. Berdasarkan pengalamannya menggunakan mesin espresso serupa di Australia, Synesso Hydra tiga grup bisa menghasilkan 2000 cangkir espresso per hari. “Berapa banyak espresso yang dibuat dalam sehari sebenarnya lebih bergantung pada jumlah pengunjung dan kemampuan barista dalam melayani,” Guido menambahkan.

Iqbal menyatakan bahwa dirinya puas sekaligus bangga menggunakan Synesso Hydra. “Semua fitur yang disediakan Synesso Hydra sudah saya coba, dan semuanya sangat membantu saya menyajikan espresso yang berkulitas,” Iqbal menegaskan. “Beberapa pelanggan yang merupakan penikmat kopi antusias juga mengagumi mesin espresso ini. Sebagian pelanggan lainnya tidak begitu peduli dengan merek mesin, yang penting rasa kopinya pas buat mereka,” tutup Iqbal mengakhiri wawancara.

Iqbal Fadilah

Deputy Head Barista Noah’s Barn Coffeenery

Lahir di Bandung, 20 September 1992. Mengawali karirnya sebagai barista di Noah’s Barn sejak 2012. Ketertarikannya di bidang F&B bermula dari sering memerhatikan pekerjaan sang kakak, Opik, seorang barista senior di Bandung.

Dari sang kakaklah, Iqbal mewarisi dan mengasah keterampilannya sebagai barista. Maret 2014, Iqbal berangkat ke Bali sebagai satu-satunya wakil dari Bandung dalam ajang Indonesian Latte Art Championship (ILAC) sebagai bagian dari Food, Hotel & Tourism (FHT) Exhibition. Iqbal berhasil menggondol juara ketiga dalam ajang ini.

April 2014, Iqbal kembali dipercaya sebagai wakil dari Indonesia bersama Viki Irama Raharja untuk berlaga dalam ajang Food & Hotel Asia (FHA) Latte Art Challange 2014 yang digelar di Singapura.