Peran Asing dan Keberlanjutan Industri Kopi di Indonesia
Wednesday, 04-Mar-15 01:56:14 WIB

Saat ini Indonesia merupakan negara produsen kopi terbesar ketiga setelah Brasil dan Kolombia. Tidak hanya itu, Indonesia juga merupakan negara produsen kopi Robusta terbesar di dunia. Sayangnya penyebaran perkebunan kopi di Indonesia masih belum merata. Tersebar dengan persentase yang berbeda-beda di seluruh pelosok negeri Indonesia, dan mayoritas ditanam oleh 1,5 juta petani kecil dengan luas rata-rata perkebunan kurang dari satu hektar.

Proses penanaman kopi di Indonesia pun masih dibilang jauh dari modern ketimbang negara lain. Beberapa petani bahkan menanam kopi sesuka hati mereka. Terkadang menanam cokelat, cengkeh ataupun komoditas lain, tergantung komoditas mana yang memberikan keuntungan paling besar. Belum lagi profesi petani dianggap sebagai status yang paling rendah di Indonesia, bukan menjadikannya profesi yang favorit di kalangan anak muda.

Bagi mereka, profesi petani tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup. Sehingga banyak di antara mereka yang memilih pindah ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, menurut mereka.

Alhasil keberlanjutan (sustainability) industri kopi menjadi terhambat. Sementara permintaan akan komoditas ini terus meningkat setiap tahunnya, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Berkembangnya permintaan pasokan biji kopi sebenarnya menjadi hal yang menguntungkan bagi petani. Sayangnya kebanyakan dari petani kopi ini tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk menjaga pasokan keberlanjutan biji kopi tersebut. Dan, banyak pula dari mereka yang susah menerima perubahan. Khususnya datang dari orang asing yang bukan berasal dari wilayah mereka. Bagi mereka perubahan akan menghambat proses, karena hidup mereka bergantung dari perkebunan tersebut. Mereka butuh suatu jaminan, jika mereka mengubah pola hidupnya paling tidak pendapatan mereka tidak berkurang. Kalau dapat lebih, ya Alhamdulillah.

Alhasil dibutuhkan suatu komitmen, karena sustainability bukanlah sesuatu yang dibuat dalam waktu yang singkat. Jika kita ingin memperbaiki sustainability, kita pun harus mampu mengubah pola pikir petani, meyakinkan mereka untuk mencoba hal baru demi hasil lebih baik. Dan tentunya, selain membutuhkan waktu dan kesabaran, dibutuhkan pula dana yang cukup besar.

Persoalan sustainability ini sebenarnya sudah menjadi perhatian dunia, khususnya perusahaan-perusahaan penghasil biji kopi. Sudah cukup banyak perusahaan yang memulai program kecil-kecilan agar kualitas produknya terjamin. Beberapa waktu lalu ada sebuah gerakan langsung dari roaster atau kafe dari Amerika ke petani Indonesia. Rata-rata program ini memiliki skala yang kecil, sebatas kebutuhan kafe dan konsumsi di daerah mereka sendiri. Salah satu perusahaan yang memiliki program skala besar akan keberlanjutan industri kopi di Indonesia adalah, Mondelez International.

Sebagai perusahaan global penghasil makanan ringan di dunia, Mondelez International merupakan salah satu pembeli biji kopi Robusta terbesar di Indonesia. Walaupun unit bisnisnya tidak menjual produk kopi untuk pasar Indonesia, hanya saja setiap tahunnya Mondelez membeli kopi Robusta Indonesia hingga US$ 150 juta.

Sadar akan pentingnya keberlanjutan kopi dan petani di Indonesia, perusahaan yang dulunya bernama Kraft Food ini meluncurkan program Coffee Made Happy. Melalui program ini, Mondelez International berkomitmen menginvestasikan minimum US$ 200 juta untuk memberdayakan satu juta petani kopi di berbagai negara penghasil kopi hingga tahun 2020.

Program Coffee Made Happy bertujuan untuk menginspirasi, melatih dan membangun kapasitas petani, meningkatkan kesejahteraan petani dan mengajak generasi muda dan wanita agar terlibat di sektor pertanian mikro. Dengan program ini, Mondelez International ingin membantu menemukan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi para petani demi terciptanya pasokan yang berkelanjutan. Dalam menjalankan program ini, Mondelez International juga berkolaborasi dengan berbagai mitra, seperti Rainforest Alliance, Institusi Penelitian Kopi dan Kakao di Indonesia (ICCRI), 4C Association, dan IDH--Inisiatif Perdagangan Berkelanjutan, untuk menjalankan program Coffee Made Happy ini.

Mondelez International memulai program ini dengan membuka Pusat pelatihan Petani di Semendo, Lampung, sebagai tahap awal pada April 2014 lalu. Mondelez International memulainya dari daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, dengan harapan gaungnya menggema lebih besar. Tentunya jika berhasil suaranya akan terdengar lantang ke seluruh pelosok negeri. Jika memulai dari yang besar, di antara anggota petani nantinya akan saling menguatkan dan mengatasi masalah ini bersama di kemudian hari.

Walaupun berkesan hanya sebentar, 6 tahun merupakan waktu yang sedikit dalam menggerakkan program ini. Hanya saja dengan melihat besarnya dana dan konteks perusahaan, Mondelez International tentunya mempunyai tanggung jawab besar akan keberhasilan program ini kepada shareholder-nya atau perusahaan. Apalagi terdapat kemungkinan berlanjutnya program setelah 2020 nanti. Ditambah lagi dengan tingkat keberhasilannya maka program ini sudah terbukti di beberapa negara seperti Vietnam dan beberapa negara penghasil kopi lainnya. Yang lebih penting lagi mereka setidaknya sudah memulai, karena memulai adalah langkah yang paling sulit.

Tidak ada salahnya kita menerima segala hal yang berujung pada kebaikan, hingga nantinya baru dioptimalkan. Ada statement yang saya suka dari Global Sustainability Manager Mondelez International - Coffee, Geraldin O’ Grady, “Jika petani pintar, terserah nanti hasilnya mau dijual ke siapa. Yang pasti tugas kami menjaga keberlanjutan dan kesejahteraan petani.” Karena kalau dari petani tidak optimal, tentunya akan berujung tidak baik. Jika konsumen bahagia, petani akan ikut bahagia. Saat ini yang dibutuhkan adalah program-program seperti ini.