Pemasaran Melalui Food Blogger
Wednesday, 18-Feb-15 09:24:10 WIB

Sebuah riset di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa peran food blogger semakin penting karena dari merekalah salah satu alasan tamu berkunjung ke restoran. Memang memasarkan restoran tidak lagi harus mengandalkan iklan di media massa. Justru peran media sosial dengan jaringan pertemanan yang luas dan pemasaran dari mulut ke mulut semakin lama semakin efektif. Ini salah satunya karena kian populernya penggunaan media sosial.

Termasuk dalam pemanfaatan jaringan pertemanan yang luas adalah Menurut Windi Isworo, Public Relation Consultant dari Media Tree, food blogger dapat meningkatkan popularitas sebuah restoran. “Blogger mempunyai komunitas yang solid. Jika kita mengundang blogger, mereka akan terus sharing info ke temannya. Nanti temannya akan datang, lalu mereka sharing info lagi. Belum lagi pembaca setia blog-nya dan followers akun media sosial mereka yang penasaran. Bagi restoran, efek ini akan berantai dan efektif untuk pemasaran,” jelas pria yang akrab disapa Woro ini.

Jumlah food blogger di Indonesia pun semakin meningkat. Menurut Yenny W, para food blogger biasa terinspirasi dari pendahulunya yang telah sukses.

“Siapa sih yang enggak ingin diundang makan gratis langsung oleh restorannya? Hal itu memiliki prestise sendiri,” ucap Yenny.

Food blogger biasa mengawali blog-nya dengan dengan gairah atau passion. Mereka sering memakai bujet sendiri untuk makan di restoran demi mengembangkan akun blog-nya. Antusiasme murni mereka terhadap dunia F&B pun menjadi sebuah keunggulan.

“Mereka justru lebih tahu kabar restoran dan tempat makan terbaru. Untuk soal makanan, mereka sangat gaul,” jelas Woro.

Karena minat food blogger terhadap dunia kuliner yang tinggi, para pemilik restoran pun diuntungkan dengan mengundang mereka untuk tes pasar. Menurut pengalaman Woro, saat para blogger diundang untuk food tasting pertama kali, banyak kritik dan saran yang didapatkan oleh restoran itu.

“Blogger memposisikan diri sebagai konsumen, jadi mereka tahu apa yang akan konsumen sukai. Sebuah grup restoran di Jakarta menerapkan strategi promosi yang ampuh hingga sekarang, yaitu gratis makan di hari ulang tahun dan free dessert jika mereka tweeting saat makan di sana. Strategi ini berasal dari feedback food blogger saat food tasting,” kata Woro menceritakan pengalamannya.

Selain itu, karena mereka membawa nama independen, seorang food blogger bisa menulis apa saja tanpa batasan. Hasilnya, tulisan mereka lebih jujur dan menarik.

“Kita dapat menulis apa saja di blog tanpa beban karena tanggung jawabnya ke diri sendiri, tidak membawa nama baik perusahaan atau apapun. Namun, jika makanan tidak sesuai kriteria pribadi, saya rasa tidak perlu juga dibilang tidak enak secara gamblang di blog kita, karena selera itu beda-beda, belum tentu orang lain akan bilang tidak enak.” kata Yenny membagikan triknya dalam beretika di dunia food blog.

“Mungkin kita bisa bilang, ‘menurut saya, makanan ini tidak sesuai dengan lidah saya. Namun soal selera balik ke masing-masing. Oleh karena itu silakan ke sini dan coba sendiri makanannya’,” tambah Yenny.

Woro menambahkan, kalau pembaca blog itu lebih tersegmentasi, yaitu pengguna aktif internet yang kebanyakan adalah anak muda. Dengan begitu, pemasaran produk tertentu bisa sampai pula ke segmen mereka.

“Misalnya, kemarin sedang ramai perayaaan Festival Kue Bulan yang merupakan festival adat, jadi belum tentu semua orang mengetahuinya. Dengan mengundang blogger, Festival Kue Bulan jadi lebih dikenal di kalangan anak muda.” tambah Woro.

Karena pada umumnya food blog adalah kegiatan sampingan, seorang blogger tidak selalu menulis konten di blognya setiap hari tetapi bisa lewat aktivitas di aplikasi lain.

“Misalnya di twitter dan instagram. Kita punya kriteria mengundang blogger dengan follower yang banyak, misalnya di atas 500 atau 1.000 orang. Dengan media sosial tersebut, mereka bisa update secara langsung di tempat saat acara berlangsung. Karena itu mereka harus jago fotografi juga karena orang lebih penasaran saat melihat foto,” kata Woro.

Kriteria soal jago fotografi itu pun diamini Yenny. Menurutnya, pengguna internet adalah orang-orang yang mudah tertarik secara visual. Jika melihat foto yang diambil secara asal-asalan, pengguna internet pun tidak tertarik lagi membaca ulasan tentang restoran.

“Jika menarik dan mengundang pembaca, promosi lewat blog jadi sangat efektif. Jika mengetik kata kunci di Google, review restoran A misalnya, saya lihat rata-rata review yang muncul paling atas adalah review dari para blogger,” kata Yenny menyimpulkan. (DSV)