Oqke Prawira, S.S.T, M.Si.Par Kurikulum Hospitality Belum Sesuai di Lapangan
Monday, 11-May-15 10:28:16 WIB

Kurikulum hospitality harusnya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah maupun universitas. Selain itu, pemerintah perlu menyediakan infrastruktur sesuai dengan kurikulum.

Pertama yang ingin saya ceritakan adalah kurikulum. Saya melihat ada beberapa salah persepsi ataupun salah penafsiran mengenai kurikulum. Kurikulum itu dibuat oleh pemerintah sebagai regulator, sedangkan SMK ataupun universitas sebagai operator. Jadi, artinya peraturan utamanya datang dari pemerintah kemudian disampaikan kepada operator sesuai dengan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia).

Akan tetapi pada pelaksanaannya, regulator yang diberikan itu tidak sesuai dengan kondisi ataupun kebutuhan di lapangan sehingga ada beberapa kasus SMK yang sulit menerapkan peraturan-peraturan baru dari pemerintah.

Kedua bahwa operator ini kurang di-support pemerintah. Dalam arti kurang di-support adalah antara SMA Negeri dengan SMK itu perlakuannya sama. Saya pernah datang ke beberapa daerah di Indonesia, mereka itu SMK dan memiliki jurusan khusus untuk tata boga tapi perlakuan kelas mereka adalah ruangan kelas dan bukan didesain untuk kitchen. Nah, ada juga SMK di Jakarta yang sama seperti itu.

Ketika berbicara kurikulum, harusnya berhubungan atau dilengkapi infrastruktur yang memadai. Kemudian kita berbicara kurikulum yang benar itu seperti apa. Kurikulum adalah hal yang menjadi acuan bagi para pelaksana (guru atau dosen) untuk mengajarkan kepada siswa ataupun mahasiswanya. Nah, ini tidak bisa maksimal karena infrastrukturnya saja tidak ada.

Kalau bicara kurikulum agak tidak tepat sedangkan yang membuat kurikulum tidak tahu persis kondisi di lapangan seperti apa. Kemudian universitas swasta itu lebih fleksibel artinya dana yang diadapatkan tidak murni dari pemerintah. Mereka bisa melengkapi prasarana belajar untuk menerapkan apa yang dibuat di kurikulum dan diberikan kepada mahasiswanya. Akan tetapi untuk membuat hospitality school itu tidak murah.

Saat ini sudah banyak sekolah tinggi pariwisata yang bermunculan. Persaingan semakin ketat, ini menyulitkan universitas menarik calon mahasiswa. Hal ini dikarenakan sekolah pariwisata perlakuan operasionalnya hampir sama seperti hotel dan restoran sehingga biayanya tinggi.

Karena persamaan perangkat yang digunakan ketika membuat menu biasanya memasukkan menu-menu dasar western ke dalam kurikulum. Biasanya mereka memasukkan menu-menu yang sedang tren.

Hotel dan restoran lebih fleksible dalam hal menu, sedangkan sekolah membuat kurikulum itu setahun sebelumnya. Harga dimasukkan tetapi ternyata pada pelaksanannya untuk semester ganjil/genap harganya sudah berubah dan kesulitannya disini. Tetapi biasanya pihak universitas memiliki subsidi silang untuk membantu proses pembelian bahan makanan untuk pratik.

Jadi kalau berbicara kurikulum, saya kurang sreg sama peraturan yang dibuat pemerintah. Kenapa? SMK itu adalah jelas vocational. Seharusnya dari vocational itu mereka diarahkan kepada sekolah tinggai atau universitas yang vocational juga, jadi berkesibambungan dan berjenjang.

Nah, masalahnya ketika mereka di SMK sudah sangat kuat, tetapi di universitas justru mengulang pelajaran yang sama. Hanya saja saat mereka lulus mendapatkan gelar yang berbeda. Padahal materi yang dipelajari itu sama. Nah, kita di asosiasi mengatakan hal ini salah. Tapi balik lagi, kita adalah operator dan bukan regulator. Kita hanya memberikan saran atau masukan kepada Diknas, Dikmenti dan Dikti.

Kita harus duduk bersama Diknas, Dikti & Dikmenti untuk membahas kelangsungan pendidikan di Indonesia. Karena saya lihat ujung-ujungnya proyek, misalnya mereka mengeluarkan kebijakan ini & itu tapi tidak pernah dipikirkan dampak dari peraturan yang mereka buat terhadap operator.

Sudah banyak kasus yang terjadi dan menjadi bumerang bagi SMK & universitas. Kita selalu update dengan industri seperti apa kebutuhannya. Tetapi hal itu tidak bisa menjawab karena harus balik lagi, kita harus mengikuti peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Itulah kendala-kendala yang ditemui disekolah dan universitas .

 

*Tulisan ini hasil dialog dengan Oqke Prawira, S.S.T,M.Si.Par