Mesin Roasting Buatan Anak Negeri
Tuesday, 03-Mar-15 01:53:50 WIB

Kopi Toraja itu dikeluarkan dari dalam drum setelah di-“bakar” (roasting) selama lebih kurang 13 menit. William Edison tampak tersenyum puas melihat hasil pembakaran kopi yang cukup merata dari segi warna. Dia lalu mematikan aplikasi roasting yang tertanam pada telepon pintarnya dan melihat grafik yang bentuknya seperti lembah yang turun lalu naik lagi.

Siang itu, bertempat di rumah saya, kami mencoba produk baru buatan William, mesin roasting dengan kapasitas lebih besar, tiga kilogram. Sebelumnya, William telah berhasil memasarkan mesin roasting satu kilogram yang harganya 7 jutaan rupiah dan kini melaju dengan kapasitas yang lebih besar, 3 kilogram.

Sejak awal memproduksi mesin roasting, William memang ingin membuat alat untuk “memasak” kopi yang harganya cukup terjangkau untuk banyak kalangan. Produk yang dihasilkannya cukup banyak diminati dan sudah mulai dilirik pemain kopi dari luar negeri. Tentulah kapasitas mesin roasting sebanyak satu kilogram sebagai alat produksi dirasa kurang memadai. Kini ia mengenalkan mesin kopinya yang terbaru dengan nomor seri W3000.

Mesin roasting dengan volume lebih dari 3 kilogram dan dilengkapi dengan fitur standar, seperti cooling bin, manometer tekanan gas, indikator suhu drum dam biji kopi, khususnya barang impor, tentu harganya jauh di atas angka 40 jutaan rupiah. Tapi untuk kapasitas yang sama, William berusaha menekan harga fabrikasi seminimal mungkin agar produknya bisa dia pasarkan dengan patokan harga Rp 40 juta. Bagusnya, dia tetap berusaha untuk membuat produknya sebaik mungkin, misalnya saja drum sebagai bagian terpenting pada mesin roasting dibuat dengan ketebalan material baja 8mm.

Mesin yang beratnya mencapai 100 kg ini memerlukan empat orang untuk diturunkan dari mobil. Proses instalasi hanya menyambungkan saluran gas dan listrik, lalu memasang flexible host untuk pembuangan asap dan chaff di pipa dengan diamater 20 cm. Di teras rumah saya, kami bersiap mencoba kemampuan mesin ini dan William mulai menyalakan api dan tombol pemutar drum untuk memulai proses pemanasan. Ventilasi yang bisa diatur buka tutup dengan menggunakan sebuah tuas dengan pengaturan tiga tahap, 1/3, 2/3, dan terbuka penuh.

Angka display elektronik menunjukkan suhu di ruang drum terus meningkat hingga menunjukkan angka 130°C. Pada angka tersebut, pintu funnel mulai dibuka dan sebanyak 300 gram kopi atau hanya 1/10 kapasitas terpasang masuk ke dalam drum dan proses roasting-pun dimulai. Suara yang dihasilkan oleh mesin roasting W3000 tidak bisa diukur dengan parameter decibel, tapi cukuplah dengan membayangkan dengung dari alat penghisap debu atau vacuum cleaner.

Penggunaan suhu yang relatif lebih rendah karena jumlah kopi yang sedikit, dan menurut William, biasanya dia mulai memasukan kopi di suhu 180-200°C untuk berat hingga 3 kg. Sebuah aplikasi dari sistem Android yang terpasang pada telepon pintarnya mulai dioperasikan. “Piranti praktis yang saya unduh secara gratis dan sangat membantu membuat profil yang akan terlihat dalam grafik fluktuasi suhu dan lamanya biji kopi di dalam drum,” katanya.

Untuk batch pertama ini diperlukan waktu hingga 17 menit dan kopi mulai dikeluarkan dari dalam drum pada saat suhu mencapai 208°C . Warna terlihat cukup merata dan hanya perlu waktu kurang dari lima menit dan kopi yang diputar oleh agitator di dalam cooling bin sudah mulai bisa dipegang.

Lalu William mulai memasukan biji kopi dengan berat 1,2 kilogram saat suhu drum berada di angka 180°C. Kali ini hanya perlu waktu 13 menit saja, dan pada suhu 208°C, kopi yang sudah berubah wana menjadi coklat agak tua mulai dikeluarkan dari drum yang putarannya mencapai 95 RPM. Biji kopi beserta sedikit asap langsung berputar di dalam wadah pendingin yang panasnya dihisap melalui sebuh motor kecil dengan kekuatan 130 watt. Tak lebih dari lima menit kopi pun sudah mulai dingin.

Saat proses roasting sedang berlangsung, saya tidak melihat terlalu banyak asap yang dihasilkan. Mungkin faktor kandungan air dari biji kopi yang sudah memenuhi syarat serta tingkat warna roasting yang tak terlalu gelap membuat kekhawatiran akan gangguan asap yang sowan ke rumah tetangga menjadi hilang.

Demikian juga saat percobaan terakhir dengan biji kopi mentah sebanyak 3 kilogram yang mulai di-roast pada suhu 180°C hingga berakhir pada temperatur 207°C dengan durasi 15 menit. Hasilnya bisa Anda lihat pada foto terakhir. Sebagai catatan tambahan, William membuka secara penuh aliran ventilasi untuk mengalirkan udara panas pada semua proses roasting.

Di bagian bawah drum terdapat baki yang khusus digunakan untuk menampung batuan kecil yang terjatuh saat proses roasting sedang berlangsung. Menurut William, dia sengaja membuat celah dengan lebar 2 mm dengan maksud agar terjadi sortasi benda asing seperti batu atau serpihan lain. Sedangkan di bagian chaff collector cyclone, kami melihat cangkang biji kopi yang bertumpuk hasil dari me-roasting 4,5 kilogram kopi.

Itulah ilustrasi singkat pengalaman kami mencoba mesin roasting buatan dalam negeri kreasi dari William Edison yang masih memusatkan produksinya di Jakarta. Waktu akan membuktikan bagaimana kinerja mesin W3000 ini terutama dari sisi kualitas hasil roasting yang harus tetap konsisten, selain daya tahan dan layanan purna jualnya. Bagaimanapun, inistiatif William layak diapresiasi karena memberikan pilihan bagi Anda yang anggarannya pas.