Melirik Peluang Pasar Foodservice di Asia
Monday, 15-Dec-14 08:59:00 WIB

Greenfield World Trade merupakan sebuah perusahaan yang merepresentasikan merek-merek perangkat foodservice, khususnya asal Amerika Serikat. “Greenfield melakukan marketing, penjualan, distribusi dan logistik kepada para pelanggan di seluruh dunia,” jelas M Limpikanjanakowit, Regional Sales Manager Greenfield World Trade saat diwawancarai Foodservice Today, Selasa (11/3) lalu.

Selama lebih dari dua dekade, Greenfield World Trade menjual dan mendistribusikan beragam merek perangkat foodservice. “Produk yang dijual merek asal Amerika karena Greenfield memang perusahaan Amerika,” ujar pria asal Thailand yang akrab disapa M.

Perusahaan yang berkantor pusat di Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat, ini menyediakan lebih dari 20 merek produk dan di antaranya adalah Blakeslee (dishwashing machine), Kold-Draft (ice machine), Maxx Cold & Maxx Ice (refrigeration & ice machine) dan Zeroll (ice cream scoop).

Meskipun seluruh produk-produk ini berasal dari Amerika Serikat tetapi tidak seluruhnya diproduksi di sana, ada pula yang diproduksi di Asia dan salah satunya di Thailand.

Menurut M, keunggulan perangkat asal Amerika Serikat ini terletak pada kualitasnya meskipun desain cenderung old-fashioned dan harga yang tinggi. “Bagi pasar Asia, mungkin pembeli memilih yang murah. Bila hanya memiliki beberapa restoran mungkin masih baik-baik saja. Namun ketika bisnisnya berkembang dan outlet bertambah tentu memerlukan produk yang tahan lama, pengusaha pun lebih tenang karena tidak ada gangguan,” urainya. Lebih lanjut M mengatakan pendapatan akan meningkat apabila pengeluaran yang tidak perlu menjadi berkurang.

Saat disinggung mengenai harga, M menganggap memang tinggi tetapi tidak berlebihan. Dilihat dari segi desain, perangkat Eropa memang lebih unggul namun kualitasnya terpengaruh krisis ekonomi di Eropa. “Di pasar dalam negeri Eropa sedang turun, mereka lebih memenuhi pasar luar seperti Asia. Mereka menurunkan harga tetapi kualitasnya juga diturunkan. Mungkin kualitasnya tidak buruk tapi lihat saja 5-10 tahun ke depan,” ujarnya.

Selain daya tahan mesin, perangkat Amerika yang dijual oleh Greenfield World Trade juga bersertifikat NSF. “Di Amerika, kami harus mendapatkan sertifikat NSF sebelum menjual produk,” ujarnya. NSF merupakan sertifikat yang menjamin perangkat tersebut aman ketika harus kontak langsung dengan makanan. “Misalkan jika ada bagian dari perangkat seperti serpihan karet maupun pecahan besi yang termakan tidak akan meracuni tubuh,” tambahnya. Meski demikian, NSF memiliki tingkatan yang berbeda dan tidak hanya ada satu regulasi. Mungkin di Indonesia kurang populer tetapi di Amerika sudah sangat umum.

Sebagai Regional Sales Manager Asia, M menilai pasar di Asia kian tumbuh khususnya lini usaha foodservice seperti kafe, restoran, hotel, convenience store dan sebagainya.

Menurutnya geliat bisnis foodservice terlihat di negara Thailand, Filipina dan Cina. Namun M juga tidak menampik wilayah Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Indonesia yang juga sedang berkembang. “Malaysia negaranya lebih kecil daripada Indonesia tetapi perkembangan ekonominya sudah baik. Indonesia sebaliknya, negara besar tetapi baru memulai,” jelasnya.

Menurut M, perkembangan bisnis foodservice di Indonesia terjadi beberapa tahun terakhir. “Selama saya bekerja 7 tahun, saya mengamati Indonesia pada 4 tahun pertama agak sepi namun 3 tahun terakhir menjadi ramai dan berkembang sangat cepat,” urainya. Lebih lanjut dirinya menambahkan bahwa Groos Domestic Product (GDP) Indonesia dua tahun terakhir sangat bagus, begitu pula tahun ini. “Regulasi di sini juga semakin ketat akan tetapi perkembangannya sangat baik terutama banyaknya convenience store seperti 7-Eleven dan restoran cepat saji seperti McDonald’s & KFC,” tambahnya lagi. Menurutnya tahun ini adalah waktu yang tepat buat Greenfield World Trade melakukan penjualan di Indonesia.

Tak hanya Indonesia, M juga mengamati pergerakan bisnis di negara-negara Asia Tenggara lainnya. “Tahun ini ada negara yang mulai tumbuh lagi yaitu Myanmar. Keadaan politik mulai stabil dan ekonominya berkembang. Misalnya tarif hotel tahun lalu seharga 150 dolar tetapi sekarang sudah 300 dolar,” jelasnya. begitu pula dengan pertumbuhan bisnis F&B di Filipina. “Filipina juga bagus untuk bisnis F&B karena masyarakatnya suka makan di luar rumah. Orang Filipina sangat sering dan senang makan bahkan harga makanannya pun mahal. Satu sajian di restoran cepat saji mungkin bernilai 150 ribu rupiah,” urainya.

Kondisi di Filipina justru berbanding terbalik seperti di Indonesia. Menurut M, orang Indonesia memang suka makan di luar rumah hanya saja harga makanan tidak terlalu mahal. Walaupun demikian, M mengakui bahwa pasar Indonesia bagus karena didukung pula pertumbuhan bisnis di kota-kota besarnya. “Pasar Indonesia bagus, banyak kota besar seperti Jakarta, Bali, Surabaya dan Bandung yang setahun belakangan ini banyak pembangunan. Alhasil kota-kota kecil pun mulai tumbuh,” urainya.

Untuk mengukur pertumbuhan ekonomi di Indonesia, M mengambil parameter penjualan produk Nestle. “Salah satu indikatornya adalah data Nestle. Negara terbesar untuk penjualan Nestle ada di Asia, pertama adalah Cina dan kedua Indonesia. Ini adalah indikasi tumbuhnya ekonomi Indonesia karena Nestle adalah brand besar,” jelasnya.

Walaupun geliat ekonomi Indonesia tidak disangsikan olehnya namun Greenfield World Trade belum berencana mendirikan kantornya di Indonesia. “Kami adalah merek representatif, Greenfield lebih berencana menjalin hubungan dengan distributor-distributor lokal seperti halnya PT MFK. Mereka tidak terlalu tahu pasar lokal Indonesia, jadi lebih baik dikelola oleh distributor lokal,” tutupnya.