Lawangwangi Creative Space, Modern dan Asri di Tanah Dago Giri
Monday, 16-Feb-15 02:38:20 WIB

Pemilik tempat ini, Ibu Andonowati, memang seorang penggiat dan kolektor karya seni walaupun latar belakangnya bukan dari dunia kesenian. Beliau adalah dosen di FMIPA ITB,” tutur Mega Monica Soesilo, Marketing Manager dari Lawangwangi Creative Space.

Lawangwangi Creative Space pada awalnya bernama Art & Science Estate, merupakan sebuah ruang berkumpul dan berkreasi untuk para penggiat seni. Dengan perubahan konsepnya berupa penambahan restoran, tempat ini menjadi tidak tertutup untuk suatu kalangan saja, melainkan dibuka pula untuk umum. Bangunan bergaya modern minimalis ini didominasi warna-warna dasar dan diberi aksen kaca-kaca besar, memperkaya kesan edgy dari Lawangwangi Creative Space.

Sebelum masuk, pengunjung akan disambut oleh desain gerbang besar berwarna putih. Gerbang ini terlihat unik karena permainan perspektifnya. Karena tanah cukup berkontur, pengunjung dapat berjalan menanjak atau menaiki tangga di sisi jalan untuk mencapai bangunan utama.

Bangunan dua lantai yang dibangun di tanah seluas 6.000 m2 ini terdiri atas tiga bagian yaitu Art Gallery, Design Space, dan Cafe. Bagian pertama, Art Gallery (lantai satu) merupakan suatu tempat yang mempertahankan fungsi awalnya, yaitu ruang eksibisi yang setiap bulannya memamerkan karya-karya artis nasional maupun internasional.

Ketika Foodservice Today menyambangi bagian ini, tengah digelar sebuah eksibisi lukisan bertajuk “The Passage of Panji” karya Eddy Susanto di Art Gallery tersebut. Pameran tersebut menampilkan dua puluh lukisan kisah cinta Panji terhadap Puteri Daha. Kisah Jawa yang justru melekat pada masyarakat Bali tersebut ditampilkan melalui lukisan yang garis-garisnya terbentuk dari kidung Wangbang Wideya dengan teks Bali. Yang mengagumkan, ketika lampu UV dinyalakan, lukisan tersebut berubah menjadi lukisan dari berbagai peradaban dunia yang memiliki keselarasan dengan kisah Panji mulai dari kisah Sri Rama, Odyssey, Cinderella, hingga kisah Layla dan Majnun.

Melihat-lihat bagian kedua, Design Space (lantai satu dan lantai dua) merupakan tempat memamerkan karya-karya yang lebih bersifat komersil dari desainer-desainer lokal. Karya yang masuk ke dalam Design Space tersebut sebelumnya juga melalui proses kurasi layaknya hasil-hasil karya seni pada galeri. Satu bagian terbesarnya adalah TUKU yang dibuka 28 Maret lalu. Toko ini menjual karya ready-to-wear/use seperti kaos lukis, tas, sepatu, serta perhiasan cantik hingga bed cover dan bantal-bantal dengan rancangan yang unik.

Kedua bagian tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan para pekerja, penggiat, dan pecinta seni untuk mengekspresikan dirinya. Di tempat yang didominasi oleh warna-warna dasar seperti putih, abu-abu, dan hitam ini, berbagai karya yang mencolok dan berwarna-warni menjadi pelengkap yang saling mengisi bagaikan cat minyak dan kanvas.

Tidak hanya karya diam seperti patung dan lukisan yang menjadi objek kesenian di Lawangwangi Creative Space, kerap pula digelar seni tari, drama, hingga pementasan film seperti Europe on Screen yang baru digelar pada tanggal 8-10 Mei silam. Lawangwangi juga rutin menjadi tuan rumah acara BACAA (Bandung Contemporary Art Award) yang diselenggarakan setahun sekali. Di acara ini, para seniman terkemuka dapat mengadu kebolehannya dalam seni kontemporer.

Bagian paling menarik bagi saya adalah Cafe yang terletak di lantai dua. Cafe yang terdiri dari dua bagian, yaitu indoor dan outdoor ini menyajikan makanan dan minuman mulai dari Nusantara hingga Barat. Bagian indoor dari kafe ini juga menjadi bagian dari Design Space sehingga pengunjung kafe juga dapat menikmati karya seni kontemporer yang ada di Lawangwangi Creative Space ini.

Hal yang juga menarik perhatian adalah jembatan kayu yang ada di bagian luar Lawangwangi. Tempat ini menjadi satu spot favorit para pengunjung untuk mengambil gambar. Jembatan kayu yang sudah indah dibingkai dengan pemandangan alam yang menawan tentunya akan menjadi latar yang mengagumkan.

“Banyak orang yang berfoto pre-wedding di Lawangwangi. Biaya yang dikenakan kepada mereka kami sumbangkan untuk keperluan amal daerah sekitar Dago Giri,” kata Mega.

Makanan dan minuman di Lawangwangi Creative Space dibanderol dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 76.000. Hidangan favorit pengunjung adalah Sop Buntut Taliwang super pedas dan Chicken Lawangwangi dengan isian keju leleh. Menemani hidangan nikmat tersebut, tersedia berbagai mocktail dan juga kopi seperti Minty Latte serta Capuccino. Selain itu, ada pula Moon Rock, dessert andalan Lawangwangi Creative Space yang terdiri dari es krim dengan topping khas Indonesia seperti nangka dan manisan rumput laut.

Walaupun kesan masif ruang-ruang minimalis pada Lawangwangi Creative Space ini telah diperlembut dengan elemen alam berupa lantai kayu, tentunya akan lebih puas jika anda memilih duduk di bagian outdoor menikmati alam sesungguhnya. Akan sangat nikmat menyantap hidangan Anda sambil mengagumi pemandangan Dago Giri ini.

Seperti galeri-galeri seni di seluruh dunia, Lawangwangi Creative Space tutup di hari Senin. Pada hari Selasa hingga Jumat serta hari Minggu, tempat ini buka mulai pukul 11.00-22.00 WIB, sedangkan di hari Sabtu, Lawangwangi Creative Space buka dengan rentang waktu yang lebih lama, pukul 10.00-23.00 WIB. (DSV)