Bisnis Kantin Sekolah Komersial yang Menggiurkan
Thursday, 30-Oct-14 09:25:41 WIB

Tidak banyak lembaga pendidikan formal memiliki kantin yang layak, bahkan untuk perguruan tinggi sekalipun. Kantin di Indonesia bisanya terdiri dari warung-warung, dan dioperasikan oleh siapa saja. Hal ini berbanding terbalik dengan di luar negeri, kantin sekolah dioperasikan oleh para profesional di industri foodservice. Para profesional ini memiliki standar yang ketat, serta diatur dan diawasi oleh pemerintah. Alhasil mutu gizi para pelajar yang merupakan generasi penerus bangsa ini pun jadi lebih terjaga.

Bagi Gil D’ Harcour, pria yang biasa Anda temukan di rubrik Ask Gil majalah Foodservice Today ini melihat masalah tersebut sebagai suatu peluang bisnis. Gil mendobrak kebiasaan bisnis di Indonesia yang terpaku pada restoran, kafe, coffee shop, katering dan hotel, ke sebuah kantin sekolah komersial.

Gil menjadikan sebuah kantin sekolah yang namanya terdengar sangat remeh, menjadi sesuatu yang bersifat komersil layaknya restoran atau pun kafe. Kantin sekolah bahkan lebih prospektif dan bersifat jangka panjang, dibandingkan restoran yang memiliki banyak tantangan. Berkembangnya suatu restoran tergantung pada pelanggan. yang datang, menu yang enak, harga yang murah dan banyaknya promosi. Belum lagi Anda harus bersaing dengan belasan atau bahkan puluhan restoran/kafe dalam satu area, atau terkendala karena faktor cuaca, dan lain-lain.

Kantin sekolah justru memiliki pelanggan yang tetap, yaitu murid, guru dan orangtua. Jumlah pelanggan pun tidak pernah berkurang. Walaupun ada, mungkin hanya beberapa murid yang sakit atau guru yang berhalangan hadir. Itu pun tidak setiap hari bukan. Permintaan pun tidak hanya untuk makan siang saja, terkadang terdapat pula meeting sekolah, event, dan lain-lain.

Menjalankan kantin sekolah bahkan lebih menyenangkan dibandingkan menjalankan suatu restoran ataupun kafe, khususnya mengenai jam kerja karyawan Anda. Kantin sekolah memiliki jadwal yang pasti, pagi hingga sore. Mereka dapat bekerja layaknya pegawai kantoran, sehingga memungkinkan bagi karyawan menikmati kehidupan sosial yang layak. Mereka senang, mereka fokus, sangat terorganisir, dilakukan rutin, tidak membosankan dan pekerjaan pun tidak terlalu banyak. Selain itu Anda dan karyawan memiliki jadwal libur yang terencana, seperti halnya jadwal libur anak sekolah.

Dalam memilih karyawan, Anda tidak perlu merekrut level executive chef untuk dapur kantin sekolah. Level chef de partie saja cukup, asalkan dia mampu menerapkan standar hygiene sesuai dengan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points). Dan jumlah karyawan pun tidak banyak, sekitar 8 - 10 orang.

Hanya saja proses make over kantin sekolah ini tentunya tidaklah mudah, layaknya mengubah kebiasaan lama. Beberapa perubahan pun harus dilakukan, karena ini pun merupakan suatu hal yang baru bagi pihak sekolah.

Anda harus mampu meyakinkan pihak sekolah serta para orangtua, bagaimana gizi berpengaruh pada kegiatan belajar anak. Anda pun harus meyakinkan pihak sekolah bahwa dapur merupakan aset penting dan menjadi salah satu kunci keberhasilan. Untuk itu  penting adanya memiliki dapur yang mengikuti standar HACCP, layaknya dapur komersial.

Proses standar tersebut dimulai dari peralatan dapur, suhu ruangan, mengatur suhu lemari pendingin, saluran pembuangan udara, kebersihan bahan makanan, kebersihan para karyawan, kebersihan area pencucian, pembuangan sampah dan lain-lain. Semuanya disesuaikan dengan aturan HACCP.

Untuk peralatan, Gil melengkapi dapur kantinnya dengan berbagai macam peralatan dapur komersial, bukan rumah tangga. Dapur ditata sedemikian rupa layaknya dapur profesional, begitu pula dengan alur kerja para staf, sehingga mampu bekerja dengan cepat dan efisien.

Tidak hanya dapur, bahan makanan pun harus mengikuti standar hygiene, nutrisi terjamin serta tanpa MSG. Anak-anak dihidangkan dengan bahan-bahan yang segar, impor, serta terjamin kualitasnya. Anak-anak dihitung kebutuhan nutrisinya berdasarkan umur, dan diberikan menu lengkap (karbohidrat, protein dan sayur-sayuran). Bahkan Gil dengan berani menghilangkan menu ice cream, soft drink, minuman dalam botol kemasan, dan hanya menyediakan menu gorengan sekali seminggu dengan alasan kesehatan.

Untuk penyajian, dibagi berdasarkan beberapa kelompok. Bagi murid berumur 4 - 8 tahun diberikan satu set menu lengkap, diletakkan langsung di meja makan dan diberi nama mereka masing-masing. Untuk murid yang sudah besar, guru serta orangtua murid, mereka bisa memilih menu yang disediakan di showcase dengan membeli voucher terlebih dahulu melalui kasir. Menu-menu yang ada di kantin dapat dilihat melalui website yang tersedia, sehingga memungkinkan orangtua/anak memesan menu mereka terlebih dahulu. Menu pun tidak monoton, berubah setiap harinya dan harganya pun terjangkau (5 ribu - 30 ribu rupiah).

Hanya saja yang terpenting adalah semua menu dimasak pada hari itu juga, 45 menit sebelum bel istirahat berbunyi. Gil menambahkan food warmer agar masakan yang disajikan tetap hangat, dan anak-anak pun tidak menunggu lama.

Gil juga menambahkan 1 unit bar yang menyediakan berbagai minuman favorit seperti jus, milkshake, ice blended, teh, kopi dan lain-lain. Tambahan bar membuat kantin sekolah lebih fancy. Gil bahkan menghapus pemakaian nama kantin, dan menggantinya dengan nama pilihan yang diberikan murid-murid sekolah. Hal ini bertujuan untuk menjalin komunikasi lebih dekat, dan menumbuhkan rasa memiliki.

Bisnis kantin sekolah ini memang terlihat begitu menggiurkan dan lebih pasti. Hanya saja sistem ini baru bisa diterapkan di sekolah-sekolah swasta, sekolah internasional dan perguruan tinggi. Kebanyakan pasar tersebut masih menggunakan sistem kantin yang lama, membuat kesempatan di bisnis kantin komersial ini lebih terbuka lebar.