Ajang Kompetisi Biji Kopi Asia Tenggara
Wednesday, 18-Mar-15 03:43:22 WIB

Seperti halnya di tahun sebelumnya, THAIFEX-World of Food Asia 2014 kembali mengadakan Roaster Choice Award (RCA) yang ke dua. Ajang kompetisi yang diadakan di Thailand ini, menghadirkan 56 biji kopi dari Asia. Acara berkelas internasional ini didukung oleh Asosiasi Kopi Thailand, Asosiasi Barista Thailand, dan Federasi Kopi ASEAN, yaitu Asosiasi Kopi Singapura, Asosiasi Kopi Indonesia (SCAI), Dewan Kopi Filipina, Asosiasi Kopi Laos dan juga Asosiasi Kopi & Cokelat Vietnam. Sedangkan untuk juri, RCA kali ini mendatangkan para ahli kopi internasional dari Denmark (Michael De Renouard), Jepang (Hide Nishimura), Hong Kong (Felix Wong), Taiwan (Chen, Chia-Sheng) dan saya dari Indonesia.

Roasters Choice Award merupakan ajang pertandingan biji kopi terbaik di Asia. Para kontestan kompetisi ini adalah para petani kopi yang berasal dari beberapa Negara penghasil kopi terbesar di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Thailand, Filipina dan Vietnam. Masing-masing petani mengirimkan kopi single origin terbaik mereka, yang nantinya akan diseleksi kualitasnya.

Dalam kompetisi ini, biji kopi kontestan yang lulus seleksi akan di-roasting (panggang) oleh satu orang Master Roaster dari SCAE, yaitu Michael De Renoard asal Denmark yang juga bertindak sebagai juri. Kopi-kopi yang telah panggang akan diseduh dan diuji dalam 4 kategori, yaitu Espresso, Latte, Manual Brewer dan Steampunk. Kelima juri masing-masing disuguhkan satu minuman dari 18 biji kopi (dari 56) yang lulus seleksi, dan memberikan penilaian. Setelah dicicipi, barulah panitia memberi tahu dan memperlihatkan biji kopinya.

Para peserta dari Indonesia kali ini dihadiri oleh oleh 3 kontestan, yaitu bapak Yoga Rayoga dengan biji kopi Malabar yang masing-masing menggunakan 3 proses (honey-natural-wet), Natanael Charis membawa dua biji kopi dari Jawa barat dan Aipadriansyah ADI membawa satu dari Solok.

Melihat kontestan kali ini, dari awal saya sangat yakin bahwa kopi Indonesia akan menjadi juara di tingkat Asia. Hal ini terlihat dalam RCA tahun lalu, Indonesia menyabet 8 penghargaan dari 12 penghargaan dengan 6 biji kopi. Dan terbukti tahun ini kita mendapatkan 7 penghargaan dari 12 penghargaan dengan 4 biji kopi saja. Jika dilihat dari persentase, secara angka tentu hasilnya naik. Sayangnya di kategori Espresso tidak ada satupun biji kopi Indonesia yang mendapatkan penghargaan, dan justru dimenangkan oleh Thailand. Mungkin jika kopi Bali Kintamani dari desa Catur yang digunakan di IBC 2014 kemarin ikut, saya yakin Indonesia pun juga akan menjuarainya.

Kemenangan Indonesia pada kompetisi RCA kali ini dikarenakan kualitas petani yang sudah mulai teredukasi. Selain itu kita juga patut bersyukur dengan kondisi alam dan biji kopi Indonesia yang beranekaragam, dibandingkan dengan Negara-negara lain di Asia yang memiliki masalah cuaca. Jika Sumatera terganggu, masih ada Jawa, Bali, Flores dan Papua, memiliki banyak karakteristik. Makanya sudah sepantasnya Indonesia menang, kalau sampai kalah justru keterlaluan.

Bagi saya kompetisi seperti RCA ini memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan biji kopi Indonesia nantinya. Dengan menjuarai kompetisi ini, akan menjadi suatu kebanggaan dan keuntungan di sisi marketing. Apalagi pasar bebas sebentar lagi akan dibuka, hal ini akan membuka peluang bisnis di ASEAN ataupun Asia. Dengan penilaian dari beberapa juri bertaraf internasional, para petani bisa menggali informasi untuk mendapatkan masukan untuk menambah nilai jual. Kapan lagi para petani akan bertemu dengan juri kelas internasional dari berbagai pasar dunia.

Hanya saja kita tetap harus waspada dengan perkembangan Negara-negara tetangga seperti Thailand dan Filipina. Apalagi dengan kemenangan mereka di kategori Espresso, perkembangan Thailand di 2 tahun terakhir ini cukup meningkat. Jangan sampai kita kecolongan, dengan mempertahankan serta meningkatkan nama baik biji kopi Indonesia di kancah dunia.